Pelajaran dari Kisah Juha (1)


Juha adalah tokoh dalam cerita Bangsa Arab, tokoh ini selalu diperankan dengan lucu, unik dan cerdik, diantara cerita lucunya adalah sebagai berikut :
في يومٍ من الأيام كان جحا و ابنه يحزمون أمتعتهم إستعداداً للسفر إلى المدينة المجاورة ، فركبا على ظهر الحمار لكي يبدأوا رحلتهم ... وفي الطريق مروا على قريةٍ صغيرة فأخذ الناس ينظرون إليهم بنظراتٍ غريبة ويقولون " أنظروا إلى هؤلاء القساه يركبون كلهما على ظهر الحمار ولا يرأفون به " ، وعندما أوشكوا على الوصول إلى القرية الثانية نزل الأبن من فوق الحمار وسار على قدميه لكي لا يقول عنهم أهل هذه القرية كما قيل لهم في القرية التي قبلها ، فلما دخلوا القرية رآهم الناس فقالوا " أنظروا إلى هذا الأب الظالم يدع إبنه يسير على قدميه وهو يرتاح فوق حماره " ، وعندما أوشكوا على الوصول إلى القرية التي بعدها نزل جحا من الحمار وقال لإبنه إركب أنت فوق الحمار ، وعندما دخلوا إلى القرية رآهم الناس فقالوا " أنظروا إلى هذا الإبن العاق يترك أباه يمشي على الأرض وهو يرتاح فوق الحمار " ، فغضب جحا من هذه المسألة وقرر أن ينزل هو ابنه من فوق الحمار حتى لا يكون للناس سُلْطَةً عليهما ، وعندما دخلوا إلى المدينة ورآهم أهل المدينة قالوا " أنظروا إلى هؤلاء الحمقى يسيرون على أقدامهم ويتعبون أنفسهم ويتركون الحمار خلفهم يسير لوحدة " ، ... فلما وصلوا باعو الحمار.

Suatu hari Juha dan anaknya mengemas barang-barangnya bersiap untuk bepergian ke suatu kota, keduanya menaiki seekor Keledai untuk memulai perjalanannya, di tengah perjalanan mereka berdua melewati desa kecil, para penduduknya melihati mereka berdua dengan penuh keanehan sambil berkata "Lihatlah kedua orang keras kepala ini mereka menaiki Keledai dan tidak merasa kasihan dengan Keledai tersebut. Ketika mereka hampir tiba di desa yang kedua anaknya turun dari Keledai tersebut dan memilih untuk berjalan kaki supaya penduduk desa kedua ini tidak berkata hal yang sama dengan perkataan penduduk desa sebelumnya, setibanya di desa kedua tersebut para penduduknya berkata "Lihatlah Bapak yang dzolim itu membiarkan anaknya berjalan kaki sedangkan dianya enak-enakan di atas Keledai". Ketika mereka berdua hampir tiba di desa selanjutnya Juhapun turun dari atas Keledai dan berkata kepada anaknya  "Kamu nak yang naik Keledai!" Sesampainya ke sebuah desa berikutnya, para penduduknya berkata "Lihatlah anak durhaka itu membiarkan Bapaknya berjalan kaki sedangkan dirinya enak-enakan di atas Keledai", Juhapun jengkel dengan ucapan mereka semua dan iapun memutuskan bahwa dia dan anaknya melanjutkan perjalanannya tanpa menaiki Keledai tersebut agar oang-orang yang melihat tidak mengatakan hal yang sama. Mereka berdua lalu melanjutkan perjalanan dan setibanya di kota, penduduk kota berkata "Lihatlah mereka berdua itu idiot, berjalan kaki menyusahkan diri mereka sendiri padahal mereka punya Keledai" Ketika sampai Juha akhirnya menjual Keledi tersebut hehehe, lucu kan :)    

Dari cerita pendek diatas setidaknya ada 2 pelajaran yang dapat kita petik, pertama kita harus punya keteguhan hati, percaya diri dan mengabaikan cibiran orang lain jika yang kita lakukan adalah benar dan tidak menyusahkan orang lain. Terus maju lanjutkan dan tak usah menggubris mereka yang mencoba menjatuhkan kita, kalau kita yakin yang sedang kita lakukan adalah benar maka terus saja maju ke depan, jika kita meladeni ini semua maka tentunya akan menyusahkan diri kita sendiri. Pelajaran kedua dari kisah Juha di atas bahwa kta harus memahami akal dan kebiasaan suatu orang/masyarakat ketika kita berhadapan dengan mereka atau berbicara dengan mereka, karena setiap orang atau masyarakat akan memiliki kebiasaan tersendiri, dan adat serta karakter mereka yang berbeda-beda, hal ini senada dengan kalam 'Arab : خاطبوا الناس على قدر عقولهم ajak bicaralah orang sesuai dengan kadar akalnya, artinya kita harus bisa menyesuaikan arah dan kualitas pembicaraan kita dengan otak atau kebiasaan mereka, agar ucapan kita dapat diterima mereka. 
Share on Google Plus

Tentang Hasanudin SZ

Saya Hasanudin SZ, adalah seorang Pendidik/Guru Bahasa Arab di Madrasah | Email : hasanudin@live.com
    Komentar (Google+)
    Komentar (Facebook)

0 comments:

Posting Komentar