Ada Cinta di Balik Puasa Sunnah Ayyamil Bidh



Ada seorang lelaki berkata kepada Nabi saw., “Berilah saya nasihat”. Nabi bersabda, “Tahan marah”. Lelaki itu ulangi permintaannya dan Nabi tetap menjawab, “Tahan marah”. (HR. Bukhari).

Salah satu amalan  yang dianjurkan Rasul adalah puasa ayyamil bidh. Yakni, puasa sunah 3 hari di setiap bulan Hijriah (Komariyah). Penentuan kapan tanggalnya, para ulama berbeda pendapat. Ada yang mengatakan bebas kapan saja waktunya. Bisa awal bulan, akhir bulan, dan ada pula yang sepakat dilaksanakan pada pertengahan bulan.

Ulama yang mengatakan bebas waktunya ini didasarkan pada hadis, “Dari Mu’adzah ad ‘Adwiyah, sesungguhnya ia pernah bertanya kepada ‘Aisyah R.a.: “Apakah Rasul Saw. biasa melaksanakan puasa selama tiga hari setiap bulannya?” Aisyah menjawab: “ya”. Ia pun bertanya lagi: “Hari-hari apa saja yang biasanya Rasul Saw. melaksanakan shaum?” Aisyah pun menjawab: “Tidak pernah Rasul memperhatikan hari ke berapa dari setiap bulannya beliau melaksanakan shaum.” (HR. Muslim)

Sedangkan ulama yang sepakat dengan penetapan ayyamil bidh di pertengahan bulan, didasarkan pada hadis riwayat At-Tirmidzi, “Wahai Abu Dzarr, jika engkau ingin berpuasa tiga hari dari salah satu bulan, maka berpuasalah pada hari ke tiga belas, empat belas, dan lima belas.”

Terlepas dari beragam perbedaan kapan waktunya, pada hari ini, tepatnya tanggal 13, sebagian umat Islam tengah melakukan sunnah ayyamil bidh.

Lantas, apa hikmah di balik anjuran Rasul untuk melakukan puasa ayyamil bidh ini?

Sebuah kabar mengejutkan datang dari para ahli sains dan psikolog. Konon, pada saat pertengahan bulan Hijriah, muncul pula bulan purnama. Letak bulan yang dekat dengan bumi menyebabkan gaya grafitasi bulan mempengaruhi ketinggian air laut di muka bumi, dan terjadilah pasang air laut. Grafitasi dari bulan ini tak hanya mempengaruhi kondisi bumi (benda mati) tetapi juga benda hidup, terutama manusia.

Penelitian itu menyimpulkan bahwa kondisi kejiwaan manusia saat bulan purnama cenderung tidak stabil. Mudah marah, mudah senang, mudah tersinggung, mudah sedih, dan segala rasa lainnya yang dapat menyebabkan imbas positif maupun negatif bagi diri manusia. Dalam kondisi seperti ini, patut diwaspadai lebih serius. Sebab jika tidak, efek negatif akan lebih berperan ketimbang hal positifnya.
Puasa, yang difungsikan untuk menahan hawa nafsu, bisa menjadi salah satu perisai dalam menghadapi perubahan iklim bulan purnama tersebut. Dengan berpuasa, kita telah berusaha menanggalkan kemarahan yang mungkin saja terjadi kala emosi tidak stabil. Juga, lebih dari itu, pada dasarnya kita telah menunjukkan rasa cinta yang besar terhadap Rasul--dengan melakukan sunnahnya.

Ada Cinta di Balik Puasa Sunnah Ayyamil Bidh

Data kepolisian Amerika mengungkapkan bahwa pada setiap pertengahan bulan, kejahatan lebih banyak terjadi ketimbang tanggal lainnya. Hal ini pun tidak menutup kemungkinan terjadi pada umat muslim, yang juga memiliki kadar emosi naik turun.

Secara sadar maupun tidak, nyatanya puasa sunnah ayyamil bidh ini merupakan sikap kehati-hatian umat Muslim terhadap bahaya tidak terkontrolnya emosi. Yakni, menghindar dari sikap marah.

Sebab, sikap marah bukan hanya membahayakan diri si pemarah tapi juga orang lain yang mungkin tidak tahu persoalan yang menimpa. Tak hanya itu, saking besarnya bahaya sikap marah ini, Allah pun sandingkan dengan sikap setan. "Sesungguhnya kemarahan adalah sikap setan dan setan dicipta dari api, apabila salah seorang kamu marah maka hendaklah dia berwudlu.” (HR Ahmad & Abu Daud)

Pun dengan beragam hadis yang mengulas marah ini, “Seorang hamba yang menahan marah karena Allah, niscaya Dia akan memenuhinya dengan keamanan dan keimanan”. (HR Abu Daud)

"Bukanlah orang yang kuat itu orang yang menang bertumbuk, tetapi orang yang kuat ialah orang yang mampu mengawal diri daripada sifat marah." (HR Bukhari & Muslim) 

Ada seorang lelaki menemui Nabi Saw., “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepada saya ilmu yang dapat mendekatkan saya ke syurga dan dijauhkan dari neraka”. Nabi menjawab, “Jangan luapkan kemarahanmu." (HR. Thobrani, Shohih)

Puasa, sesungguhnya berfungsi untuk menghindar dari marah. Dan, menghindar dari marah berarti sama halnya dengan kita dianjurkan untuk menebar cinta, saling menebar kasih sayang, saling menghargai, saling toleransi, saling menebar keselamatan, dan juga untuk saling meminimalisir kecenderungan berbuat sesuatu yang dapat merugikan.  

Seperti namanya, ayyamil bidh yang berarti hari-hari putih, pada dasarnya mengingatkan kita semua untuk dapat meredam marah--yang juga akan berdampak buruk bagi kehidupan manusia.

Dengan demikian, tak heran jika Rasul menganjurkan umatnya untuk berpuasa 3 hari setiap bulan, terutama pada pertengahan bulan. Sungguh, ada hikmah di balik setiap sunnah. Selain mengistirahatkan anggota badan, puasa ayyamil bidh juga berfungsi untuk mengistirahatkan kadar emosi manusia guna memunculkan aura cinta kepada sesama makhluk, terutama sesama manusia dengan berkasih sayang.

Sumber : islamindonesia
Share on Google Plus

Tentang Hasanudin SZ

Saya Hasanudin SZ, adalah seorang Pendidik/Guru Bahasa Arab di Madrasah | Email : hasanudin@live.com
    Komentar (Google+)
    Komentar (Facebook)

0 comments:

Posting Komentar