Hal-hal yang Disyari’atkan pada Bulan Sya’ban


Pada saat ini kita telah berada di bulan Sya’ban yang artinya tidak lama lagi bulan Ramadhan akan datang. Berikut adalah beberapa hal yang disyariatkan pada bulan Sya’ban seperti ditulis Syaikh Abdul Malik bin Muhammad bin Abdurrahman Al-Qasim dalam kitabnya Durus Al-‘Am.
Pertama : Barangsiapa ketika bulan sya’ban sudah datang masih mempunyai kewajiban untuk mengqadha (mengganti) puasa Ramadhan, maka wajib baginya untuk bersegera melaksanakannya dengan segala kemampuannya. Dia tidak boleh menundanya setelah bulan Ramadhan berikutnya tanpa ada udzur (halangan).
Kedua : Disunnahkan memperbanyak puasa pada bulan sya’ban; karena nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dahulu melakukan ini, dan selalu menjaganya. Sebagaimana yang diriwayatkan dari hadits Aisyah Radhiyallahu Anha, ia berkata, “Saya tidak melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan, dan tidak melihatnya memperbanyak puasa selain pada bulan sya’ban.“ (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Hikmah dari hal tersebut –Wallahu a’lam– adalah bahwa berpuasa pada bulan Sya’ban bagaikan pembukaan untuk berpuasa di bulan Ramadhan, sehingga menjadi waktu untuk berlatih sebelum bulan Ramadhan datang. Begitu juga, ketika seseorang puasa di bulan ramadhan tidak merasakan kesulitan dan merasa berat, akan tetapi telah terlatih dan terbiasa untuk berpuasa, dan menemukan manis dan lezatnya berpuasa di bulan Sya’ban. Seseorang akan melaksanakannya dengan kuat dan bersungguh-sungguh, ketika memasuki puasa bulan di ramadhan; karena dirinya telah terbiasa melakukan ketaatan kepada Allah Ta’ala.
Ketiga : Seorang muslim tidak boleh menyambung puasa bulan Sya’ban dengan bulan Ramadhan, akan tetapi harus memisahnya yakni dengan tidak berpuasa pada dua hari terakhir di bulan Sya’ban. Kecuali dua hari tersebut bertepatan dengan kebiasaan seseorang dalam melakukan puasa sunnah, seperti puasa senin dan kamis, maka dia boleh berpuasa pada hari itu. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, bahwa nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
“Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan berpuasa pada satu atau dua hari sebelumnya, kecuali bagi orang terbiasa berpuasa (pada hari itu) maka berpuasalah.”(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Adapun hikmah yang terkandung padanya, para ulama mengatakan, “Agar puasa Ramadhan tidak ditambah dengan puasa yang lain, seperti halnya tidak boleh puasa pada hari raya. Disamping itu, agar dipisahkan antara amalan wajib dengan amalan sunnah dalam ibadah, sama halnya dengan perihal tidak menyambung antara shalat sunah dan shalat fardhu.”
Pendapat lain menyebutkan, “Dilarang berpuasa sehari atau dua hari sebelum Ramadhan, karena Ramadhan dilakukan setelah melihat bulan, dan barangsiapa mendahuluinya dengan berpuasa satu atau dua hari, berarti dia telah meragukan cara tersebut.”
(fimadani.com)

Share on Google Plus

Tentang Hasanudin SZ

Saya Hasanudin SZ, adalah seorang Pendidik/Guru Bahasa Arab di Madrasah | Email : hasanudin@live.com
    Komentar (Google+)
    Komentar (Facebook)

0 comments:

Posting Komentar