Mengharapkan Kematian

Masalah, satu kata ini akan dihadapi oleh semua makhluk, tak terkecuali bagi makhluk Allah yang bernama manusia yang telah diamanahi untuk menjadi khalifah-nya di muka bumi. Besar, sedang atau kecil ia tetap saja bernama masalah, hatta bagi seorang Nabi Muhammad masalah adalah sebuah makanan sehari-hari, masalah itu adalah ancaman-ancaman disertai upaya-upaya brutal yang dilakukan kaum kuffar, ancaman & upaya pembunuhan bukankah itu sebuah masalah? Nah apalagi kita umat beliau sudah pasti dan menjadi keniscayaan mendapat masalah, hanya saja masalah antara satu orang dengan orang lain tak harus sama, dalam hal kuantitas maupun rutinitasnya.

Lalu apa yang membedakan antara satu sama yang lain, kaitannya dengan masalah? Tentu selain bentuk masalah dan kadar kuantitasnya, juga yang paling penting adalah reaksi atau sikap seseorang itu dalam menghadapi dan menyelesaikannya. Ada yang bisa menyelesaikannya cara yang apik tanpa melalui kegaduhan, ada pula sebaliknya, bahkan tak sedikit adapula yang mengakhirinya dengan cara mengakhiri hidupnya, Na'udzubillahi min dzalik, lihat saja di negara Jepang, di negara bunga sakura ini sering sekali sebuah masalah menjadi alasan untuk mengakhiri hidupnya.

Bahkan di Indonesia sendiri, pernahkan kita dengar berita dan info kalau ada seorang yang bunuh diri karena masalah derita penyakit yang tak kunjung sembuh hingga berita bunuh diri dari beberapa remaja (baik putra maupun putri) yang sedang jatuh cinta kasmaran, tetiba kalap bunuh diri gegara sang kekasih pujaan hatinya minta putus. 

Dalam Islam, jangankan bunuh diri, mengharapkan kematian tanpa bunuh diripun dilarang, berikut ini kata Sang Baginda Nabi : 
Dari Anas bin Malik radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:

لَا يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمْ الْمَوْتَ لِضُرٍّ نَزَلَ بِهِ فَإِنْ كَانَ لَا بُدَّ مُتَمَنِّيًا فَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتْ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتْ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي
“Janganlah seseorang di antara kalian mengharapkan kematian karena tertimpa kesengsaraan. Kalaupun terpaksa ia mengharapkannya, maka hendaknya dia berdoa, “Ya Allah, berilah aku kehidupan apabila kehidupan tersebut memang lebih baik bagiku dan matikanlah aku apabila kematian tersebut memang lebih baik untukku.” (HR. Al-Bukhari no. 5671 dan Muslim no. 2680)

لَا يَتَمَنَّى أَحَدُكُمْ الْمَوْتَ وَلَا يَدْعُ بِهِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَهُ إِنَّهُ إِذَا مَاتَ أَحَدُكُمْ انْقَطَعَ عَمَلُهُ وَإِنَّهُ لَا يَزِيدُ الْمُؤْمِنَ عُمْرُهُ إِلَّا خَيْرًا
“Janganlah seseorang mengharapkan kematian dan janganlah dia berdoa untuk mati sebelum datang waktunya. Karena orang yang mati itu amalnya akan terputus, sedangkan umur seorang mukmin tidak akan bertambah melainkan menambah kebaikan.” (HR. Muslim no. 2682)

Sangat jelas dari hadits diatas, mengharapkan kematian hanyalah luapan emosi seseorang saat itu juga, dia tak berfikir panjang akan dampaknya yang besar terkait nasibnya setelah mati, bukankah kematian akan mengakhiri kita untuk memperoleh ganjaran dan pahala? kalau kita mati, putus sudah upaya kita berbuat baik, finish !!, pastinya mereka yang mengharapkan kematian tak memikirkan dengan jernih akan akibat buruk dari kematian itu sendiri, yaitu selesai sudah kebajikan yang kita lakukan. Terbesit keinginan untuk segera mati saja dilarang apalagi berdoa meminta kepada Allah untuk didatangkan kematian, jelas-jelas Rasul melarangnya.

Disinilah diperlukan kekuatan hati dan pikiran dalam menghadapi setiap masalah, terutama kala seseorang dihantam penyakit dan rasa sakit yang tak berujung sembuh dan berlangsung lama dan kerap kambuh berkali-kali, bukankah ini membuatnya payah, maka kepayahan fisik ini menjadi sebab rapuhnya daya pikir yang rasional, masuk akal dan jernih, akhirnya sang hatipun memutuskan untuk menyerah bergulat dengan masalah. Maka sebagai seorang muslim yang baik, keyakinan dan baik sangka kepada Sang Pencipta adalah solusinya, berbaik sangka bahwa ini baik baginya menurut-Nya, bicara baik menurut-Nya maka bicara tentang dimensi-dimensi lain, bukan hanya dunia namun yang terpenting adalah akhirat, maka disinilah dibutuhkan keyakinan dan kemantapan hati, bahwa ini baik baginya menurut-Nya di sisi-Nya, yakin bahwa Allah melakukan ini demi kebaikan bagi seseorang itu, yang seringkali tak bisa dilihat dan dirasa saat itu juga akan kebaikan yang akan Allah berikan, kebaikan itu Allah siapkan baginya di akhirat kelak, disinilah dimensi yang terpenting, iya dimensi akhirat, dimana kebaikan yang akan diberikan oleh Allah di akhirat tak kenal berhenti, akan terus dirasakan, kebaikan itu adalah Surga. Disinilah akhirnya dibutuhkan kesabaran bagi seseorang yang sedang dirundung masalah, salah satunya adalah deraan sakit yang dideritanya,  Bukankah ganjaran orang-orang yang sabar itu Surga.

عَن عَطَاءُ بْنُ أَبِى رَبَاحٍ قَالَ قَالَ لِى ابْنُ عَبَّاسٍ أَلاَ أُرِيكَ امْرَأَةً مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ قُلْتُ بَلَى . قَالَ هَذِهِ الْمَرْأَةُ السَّوْدَاءُ أَتَتِ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَتْ إِنِّى أُصْرَعُ ، وَإِنِّى أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللَّهَ لِى . قَالَ « إِنْ شِئْتِ صَبَرْتِ وَلَكِ الْجَنَّةُ وَإِنْ شِئْتِ دَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُعَافِيَكِ » . فَقَالَتْ أَصْبِرُ . فَقَالَتْ إِنِّى أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللَّهَ أَنْ لاَ أَتَكَشَّفَ ، فَدَعَا لَهَا
Dari ‘Atho’ bin Abi Robaah, ia berkata bahwa Ibnu ‘Abbas berkata padanya, “Maukah kutunjukkan wanita yang termasuk penduduk surga?” ‘Atho menjawab, “Iya mau.” Ibnu ‘Abbas berkata, “Wanita yang berkulit hitam ini, ia pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas ia pun berkata, “Aku menderita penyakit ayan dan auratku sering terbuka karenanya. Berdo’alah pada Allah untukku.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Jika mau sabar, bagimu surga. Jika engkau mau, aku akan berdo’a pada Allah supaya menyembuhkanmu.” Wanita itu pun berkata, “Aku memilih bersabar.” Lalu ia berkata pula, “Auratku biasa tersingkap (kala aku terkena ayan). Berdo’alah pada Allah supaya auratku tidak terbuka.” Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- pun berdo’a pada Allah untuk wanita tersebut. (HR. Bukhari no. 5652 dan Muslim no. 2576).

Surga loh timpalan bagi orang yang mau bersabar, terutama sabar dalam menghadapi rasa sakit. Wow siapa yang nolak surga... 

Kalau tahu seperti ini pahalanya, masih mau mengharapkan kematian ???

[Pondok Pinang, Rabu 6 Januari 2016]
Share on Google Plus

Tentang Hasanudin SZ

Saya Hasanudin SZ, adalah seorang Pendidik/Guru Bahasa Arab di Madrasah | Email : hasanudin@live.com
    Komentar (Google+)
    Komentar (Facebook)

0 comments:

Posting Komentar