Menjawab Salam Dengan Benar



Dalam Islam sangat diatur hubungan antara sesama manusia, sungguh betapa lengkap dan sempurnanya agama Allah ini. Salah satu yang diatur dalam Islam kaitannya dengan hablumminannas adalah mengucapkan salam, hal ini berdasarkan hadits Rasulullah :

« حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ ». قِيلَ مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ ».
“Hak muslim pada muslim yang lain ada enam.” Lalu ada yang menanyakan, ”Apa saja keenam hal itu?” Lantas beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”
  1. Apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam padanya
  2. Apabila engkau diundang, penuhilah undangannya, 
  3. Apabila engkau dimintai nasehat, berilah nasehat padanya, 
  4. Apabila dia bersin lalu dia memuji Allah (mengucapkan ’alhamdulillah’), doakanlah dia (dengan mengucapkan ’yarhamukallah’), 
  5. Apabila dia sakit, jenguklah dia, dan 
  6. Apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya (sampai ke pemakaman).”
    (HR. Muslim no. 2162)
Seringnnya kita mengucapkan salam hanya kepada mereka yang sudah kita kenal saja, padahal kepada yang sama sekali belum kita kenal juga sama-sama dianjurkan untuk mengucapkannya, hal ini berdasarkan hadits Rasul :

أَىُّ الإِسْلاَمِ خَيْرٌ قَالَ « تُطْعِمُ الطَّعَامَ ، وَتَقْرَأُ السَّلاَمَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ ، وَعَلَى مَنْ لَمْ تَعْرِفْ »
“Amalan Islam apa yang paling baik?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjawab, “Memberi makan (kepada orang yang butuh) dan mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenali dan kepada orang yang tidak engkau kenali. ” (HR. Bukhari no. 6236) 

Lalu apakah mengucapkan salam lafadznya diatur pula dalam Islam, ya, hal ini dapat dilihat dari hadits berikut ini :

عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ. فَرَدَّ عَلَيْهِ السَّلاَمَ ثُمَّ جَلَسَ فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- : عَشْرٌ . ثُمَّ جَاءَ آخَرُ فَقَالَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ. فَرَدَّ عَلَيْهِ فَجَلَسَ فَقَالَ : عِشْرُونَ . ثُمَّ جَاءَ آخَرُ فَقَالَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ. فَرَدَّ عَلَيْهِ فَجَلَسَ فَقَالَ : ثَلاَثُونَ
Dari Imran Ibn Hushain radhiyallahu ‘anhu berkata, “Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mengucapkan “Assalamu ‘alaikum”. Nabi menjawab salam itu, lalu orang itu duduk. Nabi berkata, “sepuluh (kebaikan)”. Kemudian datang orang lain dan mengucapkan, “Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah”. Nabi menjawabnya, lalu orang itu duduk dan Nabi berkata, “Dua puluh (kebaikan)”. Kemudian datang orang lain lagi dan mengucapkan “Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wabarakatuh”. Nabi membalas salamnya lalu dia duduk dan Nabi berkata, “Tiga puluh (kebaikan).” (HR. Abu Daud)

Hadits diatas adalah menjelaskan tentang lafadz untuk yang memulai mengucapkan salam, yaitu dengan :
  1. Assalamu ‘alaikum, pahalanya 10 kebaikan
  2. Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah, pahalanya 20 kebaikan
  3. Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wabarakatuh, pahalanya 30 kebaikan
Jadi, kalau kita ingin mendapatkan pahala yang lebih banyak mengucapkan salamnya tidak hanya "Assalamu ‘alaikum" tapi sebaiknya lengkap, yaitu "Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wabarakatuh", pahalanya paling besar, yaitu 30 kebaikan.

Kemudian bagaimana cara menjawabnya, apakah lafadznya ditentukan juga, dalam hadits diatas barusan, tak disebutkan spesifik lafadz balasan salam yang Rasul ucapkan, dalam hadits hanya "Rasul menjawab salamnya".   Nah bentuk membalas salamnya adalah mari kita amati firman Allah ta’ala dalam surat an-Nisa,
وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا
“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa).” (QS. An Nisa’: 86)

Jadi kita diperintahkan membalas penghormatan atau salam yang diucapkan kepada kita dengan yang lebih baik, atau minimal sama dengan ucapan salam yang diberikan oleh si pemberi salam. Sehingga kalau yang memberi salam mengucapkan,
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ
“Assalamu ‘alaikum”
Maka minimal kita membalasnya dengan ucapan,
وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ
“Wa ‘alaikumus salam”

Kalau kita ingin membalas dengan yang lebih lengkap dengan mengucapkan,
وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ
“Wa ‘alaikumus salam wa rahmatullah”
Atau,
وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
“Wa ‘alaikumus salam wa rahmatullahi wabarakatuh”
Maka ini lebih baik.

Jadi apabila yang memberi salam mengucapkan lafazh yang lengkap, maka sepantasnya kita untuk membalas dengan ucapan salam yang lengkap juga.

Nah tiba saatnya sekarang kita bahas sesuai dengan judul artikel diatas. Yang perlu kita perhatikan adalah saat membalas salam kebanyakan mereka orang Indonesia yang menjawab salam, dhomir كم "kum" nya tidak diwashalkan (disambungkan), padahal seharusnya di washalkan karena kata setelah dhomir "kum" yaitu kata السلام adalah beralif lam, maka dalam bahasa Arab seyogyanya harus diwasholkan yaitu menjadi "Wa'alaiKUMUssalam" bukan "Wa'alaiKUMsalam". Jika tidak diwashalkan maka dalam penulisan Arab lafadz salamnya adalah : وَعَلَيْكُمْ سَلاَمٌ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ . Kalau demikian adanya maka lafadz سَلاَمٌ menjadi nakiroh atau umum, hal ini dalam bahasa Arab tentu jadi dipertanyakan itu keselamatan milik/dari siapa, masih umum, hal ini juga tidak cocok dengan lafadz setelahnya, yaitu رَحْمَةُ اللهِ , jelas lafadz ini artinya "Rahmat Allah" dan begitupula lafadz بَرَكَاتُهُ yang artinya "Keberkahan-Nya (Allah)", kenapa keselamatannya masih umum tapi rahmat & keberkahannya sudah tertentu yakni dari Allah. Kalau سَلاَمٌ (tidak beralif lam/nakirah) maka itu keselamatan dari siapa, masih dipertanyakan, masih umum, beda jika ia beralif lam, menjadi ma'rifat, menjadi khusus, tertentu, yaitu salam dari Allah. Jadi membacanya harus diwasholkan pada Dhomir كم nya.Selain itu pula logikanya lafadz سَلاَمٌ harus beralif lam (ma'rifat) karena salam pertamanya (yang diucapkan oleh pemberi salam) sudah dalam posisi beralif lam (ma'rifat), maka kata سَلاَمٌ ketika di salam balasannya juga harus beralif lam (ma'rifat) 

Demikian, Waallahu A'lam Bishshowaab...
Share on Google Plus

Tentang Hasanudin SZ

Saya Hasanudin SZ, adalah seorang Pendidik/Guru Bahasa Arab di Madrasah | Email : hasanudin@live.com
    Blogger Comment
    Facebook Comment

1 comments:

  1. assalamu’alaikum ustad, maap udah lama banget, mungkin masih bisa jadi anget nich

    ane mo nambahin pertanyaan nich tad, tentang jawabannya salam nich, bagaimana dengan kata “wa” di depannya tad, bukannya itu artinya “dan” ya tad, dan itu mempunyai arti kata sambung, bagaimana kita mengungkapkan kata dan kalimat kalo ngga ada sambungannya

    jadi gimana tuh tad, yang bener, “alaikumus salaam” atau tetep jadi “wa alaikumus salaam” ???

    BalasHapus