Dari Buntet Pesantren untuk NKRI


Dari Buntet Pesantren untuk NKRI

Menag Lukman Hakim Saifuddin memandang kontribusi Pondok Buntet Pesantren bagi kemajuan Negera Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sangat besar. Hal ini disampaikan Menag saat memberikan sambutan pada Haul Almarhumin Sesepuh dan Warga Pondok Buntet Pesantren, Cirebon, Sabtu (09/04) malam.

Menurutnya, Pondok Buntet Pesantren dirintis oleh Kyai Muqoyyim bin Abdul Hadi, yang lebih dikenal dengan Mbah Muqayyim, pada tahun 1750 M. Karena kepeduliannya yang sangat tinggi terhadap masyarakat dan pondok pesantren, beliau rela meninggalkan jabatannya sebagai “mufti” di Kesultanan Kanoman Cirebon.  “Meninggalkan jabatan terhormat demi merintis pondok pesantren merupakan keputusan yang tidak semua orang mampu melakukannya. Subhanallah,” puji Menag.

Dari pesantren Buntet ini juga, lahir sosok Kyai Muta’ad, Kyai Anwaruddin Kriyani yang lebih dikenal Ki Buyut Kriyan, Kyai Jamil, dan Kyai Abbas. Nama terakhir dikenal sebagai  ulama yang berpandangan luas. Bersama Kyai Anas dan Kyai Akyas, Kyai Abbas mengembangkan Tarekat Tijaniyah dan mengantarkan  Pesantren Buntet sebagai “kekuatan politis-tradisional” yang berkontribusi konkret dalam pembangunan bangsa. 

Kontribusi pendidikan Kyai Abbas bahkan tidak hanya di Tanah Air, tapi juga di Tanah Suci. Sembari nyantri, Kyai Abbas juga ikut mengajar di Makkah. Bahkan, dalam pandangan Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ary, Kyai Abbas memiliki banyak kelebihan. 

Sebagai pejuang bangsa, Kyai Abbas juga berkontribusi besar dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Beliau adalah pimpinan rombongan pejuang Cirebon yang berangkat menuju Surabaya. Ketika Bung Tomo datang berkonsultasi kepada Hadratus Syaikh untuk meminta persetujuan dimulainya perlawanan rakyat terhadap Inggris, pendiri PBNU itu menyarankan agar perlawanan rakyat jangan dimulai sebelum Kyai Abbas datang ke Surabaya. “Kisah ini menunjukkan betapa Kyai Abbas dan santri-ulama Cirebon lainnya dipandang memiliki kekuatan yang luar biasa dalam pertempuran 10 Nopember 1945,” tutur Menag.

Dikatakan Menag, rekam jejak kyai pesantren Buntet ini memunculkan keyakinan  bahwa NKRI dapat meraih kemerdekaannya berkat perjuangan ulama dan kyai pesantren. Mereka telah  memperjuangkan jiwa dan raganya untuk  keislaman dan keindonesiaan sekaligus. Mereka telah memperjuangkan keislamannya, tanpa mengorbankan keindonesiaan. Demikian juga sebaliknya, memperjuangkan keindonesiaan tanpa melupakan keislaman. 

“Islam-Indonesia adalah Islam kita. Islam yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur keindonesiaan dan menegakkan jati diri bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” pekik Menag.

Menurutnya, pelajaran dari kyai Buntet ini harus dilanjutkan, terutama dalam konteks menghadapi pemahaman dan gerakan keagamaan radikal yang mendegradasi karakteristik keagamaan khas Indonesia dan mengancam eksistensi NKRI.

Sebelumnya Ketua Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Buntet KH Nahduddin Royandi Abbas menyampaikan bahwa acara haul semacam ini sudah dilakukan sejak 600 tahun lalu. Keberadaan Pondok Buntet Pesantren yang berbaur dengan masyarakat, menjadikan masyarakat dengan pesantren menyatu. Masyarakat dan pesantren rukun dan saling bergaul, membaur layaknya keluarga besar yang membangun peradaban Islam di Buntet. 

Menag Hadiri Haul Pesantren dan Warga Buntet Cirebon

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menghadiri Haul Almarhumin Sesepuh dan Warga Pondok Buntet Pesantren, Cirebon. Menurutnya, haul  atau peringatan tahunan atas wafatnya seseorang merupakan tradisi baik yang patut dilestarikan. Melalui haul, masyarakat bisa belajar meneladani kepribadian, pemikiran, dan perjuangan para ulama yang telah wafat. 

“Tradisi, haul bukanlah perbuatan bid’ah, apalagi bid’ah yang sesat. Namun itu merupakan perbuatan yang sangat baik sekaligus patut ditiru dan terus dilestarikan,” kata Menag di hadapan pengasuh, santri, dan masyarakat Buntet, Cirebon, Sabtu (09/04) malam.  Tampak hadir juga dalam acara KH Hasyim Muzadi, Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Mohsen, serta Kakanwil Jawa Barat H.A Buchori.

Acara yang mengusung tema “Merawat Tradisi Melanjutkan Inovasi” ini dihadiri ribuan masyarakat yang datang dari berbagai daerah. Hal ini menunjukan kharisma yang begitu kuat dari para kyai Buntet sehingga  antusias masyarakat tidak surut meski hujan turun lebat jelang acara dimulai.

Menag sendiri merasa bersyukur bisa hadir sehingga bisa lebih mengenal sejarah  penting masyayikh dan ulama pesantren Buntet. Dikatakan Menag, sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia, munculnya pesantren  tidak dapat dipisahkan dari sejarah awal kedatangan Islam ke Indonesia pada abad ke-6 M. menurutnya, pesantren lahir dari rahim budaya Indonesia yang asli. Pesantren tidak hanya identik dengan makna keislaman, tetapi juga mengandung makna keaslian Indonesia. Pesantren muncul dan berkembang dari pengalaman sosiologis masyarakat, sehingga antara pesantren dengan komunitasnya memiliki keterkaitan erat.

“Pesantren telah melahirkan ulama, tokoh agama, para pemimpin masyarakat yang telah memberikan sumbangan besar bagi pendirian dan kemajuan bangsa,” kata Menag. Sebagai contoh, Menag menyebut beberapa ulama yang dilahirkan Pesantren pada awal abad ke-20, yaitu: Syekh Yusuf al-Makassari, Syekh Arsyad al-Banjari, Syekh Nawawi al-Bantani, Syekh Ahmad Khatib, dan Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari. Bahkan sebelumnya sekitar abad ke-16 dan 17 M, telah muncul ulama besar, seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin al-Sumatrani, Nurudin al-Raniri, Abdul Rauf Singkel, dan Abdul Samad al-Palimbani.

“Torehan tinta sejarah emas pondok pesantren sangat berjasa terhadap bumi pertiwi Nusantara,” tandas Menag.

Sumber : Kemenag.go.id

Share on Google Plus

Tentang Hasanudin SZ

Saya Hasanudin SZ, adalah seorang Pendidik/Guru Bahasa Arab di Madrasah | Email : hasanudin@live.com
    Komentar (Google+)
    Komentar (Facebook)

0 comments:

Posting Komentar