Para Sahabat Yang Pertama Masuk Islam

  1. Khadijah Masuk Islam

Khadijah binti Khuwailid mengimani Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam dan membenarkan seluruh yang beliau bawa dari Allah serta memberikan dukungan sepenuhnya dalam melaksanakan perintah Allah. Khadijah binti Khuwailid adalah wanita pertama yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, serta membenarkan apa yang beliau bawa dari Allah. Dengan masuk Islamnya Khadijah binti Khuwailid, beban Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam semakin ringan. Jika Rasulullah mendengar umpatan dan caci maki terhadap beliau yang membuatnya sedih, Allah menghilangkan kesedihan itu melalui Khadijah binti Khuwailid saat beliau kembali padanya. Khadijah Khuwailid memotivasi beliau, meringankan bebannya, membenarkannya, dan menganggap remeh reaksi negatif manusia terhadap beliau. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Khadijah binti Khuwailid.

Hisyam bin Urwah berkata kepadaku dari ayahnya, Urwah bin Zubair dari Abdullah bin Ja’far bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu yang berkata bahwa Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: Aku membawa kabar gembira kepada Khadijah berupa rumah dari qashab (mutiara yang berlubang) yang di dalamnya tidak ada suara riuh dan kelelahan. Qashab ialah mutiara yang berlubang.

  1. Ali bin Abi Thalib Lelaki Pertama yang Masuk Islam

Laki-laki pertama yang mengimami Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam, shaiat bersama beliau, dan membenarkan risalahnya ialah Ali bin Abu Thalib bin Abdul Muthalib bin Hasyim. Semoga Allah meridhainya. Saat itu ia baru berumur sepuluh tahun. Di antara nikmat yang di karuniakan Allah kepada Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu adalah hidup langsung di bawah didikan Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam sebelum Islam.

Abdullah bin Abu Najih bercerita kepadaku dari Mujahid bin Jabr Abu Al-Hajjaj yang berkata: Di antara nikmat Allah yang dikaruniakan pada Ali bin Abu Thalib, dan kebaikan yang Allah anugrahkan untuknya, adalah saat orang-orang Quraisy ditimpa krisis berkepanjangan sedang Abu Thalib mempunyai tanggungan menghidupi anak-anaknya yang banyak. Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam berkata kepada pamannya Al-Abbas, orang Bani Hasyim yang paling kaya ketika itu: “Wahai Abbas, sesungguhnya saudaramu, Abu Thalib mempunyai banyak tanggungan, sedangkan orang-orang di saat sekarang sedang ditimpa krisis seperti yang engkau saksikan. Marilah kita pergi bersama-sama untuk menemuinya lalu kita ringankan bebannya. Aku membesarkan satu orang anaknya dan engkau juga membesarkan satu orang anaknya daripadanya. Jadi, kita minta dua orang anaknya.” Al-Abbas berkata: “Baiklah.” Kemudian Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam dan Al-Abbas pergi ke rumah Abu Thalib. Sesampainya di rumah Abu Thalib, keduanya berkata: “Kami berdua ingin meringankan bebanmu sampai krisis yang melanda penduduk Quraisy berakhir.” Abu Thalib berkata: “Apabila kalian berdua membiarkan Aqil tetap bersamaku maka lakukanlah apa yang kalian berdua inginkan.”

Ada yang menyebutkan bahwa Abu Thalib meminta agar Aqil dan Thalib dibiarkan bersama dirinya. Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam mengambil Ali dan membawanya ke rumah beliau, sedang Al-Abbas memungut Ja’far dan membawanya ke rumah- nya. Ali tinggal bersama Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam sampai beliau diutus Allah sebagai utusan-Nya. Ali Radhiyallahu Anhu mengikuti beliau, beriman kepada beliau, dan membenarkan beliau. Sementara Ja’far tetap tinggal bersama Al-Abbas hingga ia masuk Islam dan bisa berdikari.

Sebagian pakar menuturkan bahwa apabila waktu shalat tiba, Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam berangkat menuju Syi’b ditemani Ali bin Abu Thalib dengan rahasia dan tidak diketahui oleh ayah Ali, yaitu Abu Thalib, paman-pamannya, dan kaumnya. Kemudian Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam dan Ali bin Abu Thalib mendirikan shalat lima waktu di tempat tersebut. Sore harinya mereka pulang ke rumah. Itulah yang mereka berdua lakukan dalam jangka waktu tertentu hingga akhirnya Abu Thalib memergoki keduanya sedang dalam keadaan shalat. Abu Thalib berkata ber tanya Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam: “Wahai anak keponakanku, agama apa yang engkau peluk yang kulihat tadi?” Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam menjawab: “Wahai pamanku ini adalah agama Allah, agama malaikat-Nya, agama para Rasul-Nya dan agama bapak kita Ibrahim atau sebagaimana Rasulullah sabdakan, “Allah telah mengutus aku sebagai Rasul kepada seluruh hamba-Nya. Sedangkan engkau, wahai pamanku adalah orang yang paling berhak aku nasihati dan aku ajak kepada hidayah ini. Engkaulah sosok yang paling layak menerima dakwahku dan mendukungku di dalamnya.” Atau sebagaimana yang beliau sabdakan. Abu Thalib berkata: “Wahai keponakanku, sungguh tidak mungkin bagiku bisa meninggalkan agama leluhurku dan tradisi yang biasa mereka lakukan. Meski begitu, demi Allah, takkan kubiarkan ada seorang pun yang berbuat jahat kepadamu, selagi aku masih ada.” Banyakyang mengatakan bahwa Abu Thalib berkata kepada Ali bin Abi Thalib: “Anakku, agama apakah yang engkau peluk?” Ali bin Abu Thalib menjawab: “Ayah anda, aku telah beriman kepada Allah, dan Rasul-Nya. Aku membenarkan risalahnya, shalat bersamanya, dan mengikuti beliau.” Ada yang mengatakan bahwa Abu Thalib berkata kepada Ali, anaknya: “Jika ia menyerumu pada kebaikan, maka ikutilah dia!”

  1. Zaid bin Haritsah Lelaki Kedua yang Masuk Islam

Setelah Ali bin Abi Thalib masuk Islam, kemudian Zaid bin Haritsah bin Syurahbil bin Ka’ab bin Abdul Uzza bin Umru Al-Qais Al-Kalbi, mantan budak Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam menyusulnya menganut agama Islam. Dialah kalangan laki- laki yang pertama kali masuk Islam dan ikut shalat sesudah Ali bin Abu Thalib.

Zaid adalah anak Haritsah bin Syurahbil bin Ka’ab bin Abdul Uzza bin Umru’u AlQais bin Amir bin An- Nu’man bin Amir bin Abdu Wudd bin Auf bin Kinanah bin Bakr bin Auf bin Udzrah bin Zaidullah bin Rufaidah bin Tsaur bin Kalb bin Wabarah. Diceritakan bahwa Hakim bin Hizam bin Khuwalid pulang dari Syam dengan membawa budak-budak yang di antaranya adalah Zaid bin Haritsah dan seorang anak muda lainnya. Kemudian Khadijah binti Khu- wailid, bibi Hakim, istri Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam datang ke rumahnya. Hakim berkata kepada Khadijah: “Wahai bibiku, ambillah di antara anak-anak muda tersebut yang engkau suka, dan ia menjadi milikmu.” Khadijah mengambil Zaid lalu membawanya. Rasulullah Shallalahu alaihi wa Sallam melihat Zaid ada bersama

Khadijah, lalu Rasululah meminta Khadijah menghibahkannya kepadanya. Khadijah pun menghibahkan Zaid kepada Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam kemudian beliau memerdekakan Zaid dan mengangkatnya sebagai anak. Ini semua terjadi sebelum wahyu turun kepada beliau.

Ayah Zaid, Haritsah, sangat berduka dan menangis sedu sedan tatkala kehilangan Zaid. Ia berkata:
Ku menangis karena Zaid, dan aku tidak tahu bagaimana keadaannya kini
Masihkah dia hidup hingga masih bisa diharapkan atau dia telah temui ajal
Demi Allah aku tak tahu namun ku pasti kan mencarinya
Apakah sepeninggalku, dataran rendah atau- kah gunungyang membinasakamnu?
Wahai, andai zaman, mempunyai angin yang bolak-balik
Betapa senang hatiku bila engkau kembali kepadaku
Kala mentari terbit, ia mengingatkanku pa danya
Dan kala terbenam ia menghadirkan ingatanku padanya
Bila angin bertiup, ia menggerakkan ingatanku padanya
Wahai alangkah lamanya dukaku karenanya Ku kan duduk di punggung unta pilihan berkelana ke bumi sungguh-sungguh Ku tak bosan mengembara hingga unta itu bosan
Wahai kehidupan, ataukah telah tiba padaku kematian

Semua orang akan mati, walaupun ia tertipu angan.

Haritsah datang menjemput Zaid di ru- mah Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam. Beliau bersabda kepada Zaid: “Jika engkau suka, engkau tetap boleh tinggal bersamaku. Namun apabila suka, engkau boleh pulang kembali kepada ayahmu!” Zaid menjawab, “Aku lebih suka tinggal bersamamu.” Setelah itu, Zaid tinggal bersama Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam hingga beliau diangkat sebagai Rasul, lalu ia membenarkannya, lalu masuk Islam, dan shalat bersamanya. Pada saat Allah menurunkan firman-Nya, “Panggillah mereka dengan menggunakan nama ayah-ayah mereka.” (QS. Al-Ahzab: 5). Zaid berkata: “Sekarang aku Zaid bin Haritsah.”

  1. Abu Bakar Radhiyallahu Anhu Masuk Islam

Setelah Zaid, menyusullah Abu Bakar bin Abu Quhafah masuk Islam. Nama asli Abu Bakar adalah Atiq, adapun nama aslinya Abu Quhafah adalah Utsman bin Amir bin Amr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr.

Nama asli Abu Bakar adalah Abdullah, dan Atiq adalah julukannya, karena wajahnya yang ganteng dan rupawan dan pembebasan budak yang sering ia lakukan. Ketika Abu Bakar Radhiyallahu Anhu masuk Islam ia tampakkan keislamannya, dan berdakwah untuk Allah dan Rasulnya. Abu Bakar adalah orang yang sangat dihormati kaumnya, dicintai dan mudah bergaul dengan siapa saja. Dia orang Quraisy yang paling ahli tentang nasab Quraisy, yang paling ahli tentang kondisi dan situasi Quraisy yang paling tahu banyak kebaikan dan keburukannya. Selain itu ia seorang pebisnis yang berakhlak dan dikenal luas. Tokoh-tokoh kaumnya sering mendatanginya mengadukan beragam masalah dan karena ilmunya, perniagaannya, dan respon positifnya. Ia ajak kepada agama Allah dan Islam orang-orang yang ia percayai di antara orang-orang yang sering datang kepadanya dan berinteraksi dengannya.

(Dinukil dari Buku Siroh Nabawiyyah, Karya Ibnu Ishaq, Syarah & Tahqiq oleh Ibnu Hisyam)

Post Author: Hasanudin

Hasanudin, M.Pd | Email : hasanudin@live.com | Telegram : @hasanudinsz.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *